Sabtu, 14 Januari 2012 - 11:31:53 WIB
Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Pulau Bangka
Diposting oleh : Drs. H. Janawi, M.Ag
Kategori: Sosial Budaya Bangka - Dibaca: 2057 kali

Tulisan ini  akan menelusuri sejarah masuk dan berkembangnya Islam di pulau Bangka. Menggali sejarah masuk dan berkembangnya Islam di pulau Bangka mengalami banyak hambatan karena sedikitnya kajian dan belum cukup dijamah oleh para peneliti. Walaupun demikian di tengah-tengah kesulitan dalam melacak sumber yang valid, tulisan ini mencoba mendeskrpsikan proses masuk dan berkembangnya Islam di pulau Bangka sampai permulaan abad 20. Sumber-sumber yang digunakan adalah referensi skunder.

Hamzah dan Abdoerrahman melukiskan bahwa kesulitan melacak sejarah perkembangan Islam, termasuk sejarah agama-agama di pulau Bangka, karena bekas-bekas peninggalan dari zaman dahulu hampir tidak didapati (Hamzah dan Abdoerrahman, t.th: 1942). Berbeda halnya dengan daerah-daerah lain di Nusantara, sejarah masuk dan berkembangnya Islam atau yang lebih dikenal dengan islamisasi  telah banyak dikaji seperti Aceh yang terkenal dengan sebutan “Serambi Mekkah”, Sumatera Selatan dengan “Kesultanan Palembang”, demikian pula halnya dengan wilayah Jawa atau daerah lainnya. Daerah-daerah daratan Sumatera dan Jawa di samping memiliki akar sejarah kerajaan Islam, juga merupakan pusat kekuasaan (power center) kerajaan Islam. Walaupun pulau Bangka masuk dalam kekuasaan kerajaan Islam (Kesultanan Palembang), namun pulau Bangka merupakan daerah peripherial (pinggiran).

 

Keunikan Bangka dalam Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam

Keunikan daerah Bangka dalam sejarah masuk dan berkembangnya Islam tidak lain disebabkan oleh suatu kenyataan sejarah. Walaupun pada awalnya, pulau Bangka hampir tidak mendapat  perhatian para penguasa, baik masa pemerintahan kerajaan Sriwijaya (abad ke 7 - 13 M) maupun kerajaan Majapahit (akhir  abad 13 M). Pulau Bangka dianggap tidak memiliki sumber daya alam yang dapat dieksplorasi dan menguntungkan pihak penguasa. Namun sejak masuknya kerajaan Malaka ke wilayah Sumatera Selatan termasuk pulau Bangka,  daerah ini mulai dilirik karena memiliki sumber daya alam sepert timah telah ditemukan. Bahkan Heidhues menyebutkan bahwa Bangka identik dengan timah (Heidhues, xiii: 1992), yang ditemukan sejak tahun  1710 dan sekaligus dijadikan  sebagai tanggal penemuan timah di Bangka (Heidhues, 1: 1992).  

Selain jalur dagang yang diasumsikan sebagai proses awal, masuknya Islam ke pulau Bangka tidak terlepas dari unsur  kekuasaan mulai dari masuknya kesultanan Johor, kerajaan Minangkabau, dan Banten. Daya tarik penguasa terus berlanjut pada masa  Kesultanan Palembang, VOC dan masa pemerintahan kolonial Belanda. Selain sumber daya alam, pulau Bangka berada pada jalur pelayaran yang strategis antara Sumatera dan Jawa dan menjadi tempat persinggahan pelayaran dalam  memenuhi stok air bersih yang dibutuhkan oleh pihak pelayar.

Berdasarkan uraian di atas, tulisan ini akan memfokuskan penelusuran jejak dan jaringan tentang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di pulau Bangka baik fase awal pengenalan Islam  dan  fase perkembangan sampai awal abad 20, transmisi dan translasi ajaran Islam, dan tradisi intelektual dan peran ulama. Perkembangan Islam di pulau Bangka akhir abad 19 dan awal 20  ditandai dengan munculnya seorang ulama kharismatik, Syaikh Abdurrahman Siddik yang disebut-sebut sebagai tokoh peletak fundamental pengembangan ajaran Islam.

 

Masuk dan Berkembangnya Islam di pulau Bangka

Sumber-sumber sejarah tentang aktivitas islamisasi di Nusantara termasuk di pulau Bangka sangat sedikit. De Graaf dalam Badri Yatim (ed) menyatakan, secara keseluruhan catatan-catatan sejarah tentang proses islamisasi di dalam literatur dan tradisi Melayu sulit dipercaya. Banyak hal yang sulit dipecahkan, sehingga sejarahnya banyak yang bersifat perkiraan (Badri Yatim, 187: 1996). Perbedaan pendapat mengenai kapan masuknya Islam ini, menurut Taufik Abdullah disebabkan bukan saja karena kurangnya bahan-bahan sejarah yang otentik yang didapat, tetapi juga karena kekaburan dasar konseptual  yang dipakai. Konsep masuknya Islam masih dicampuradukkan antara “datang” (terdapat bekas Islam di suatu tempat), “berkembang” (mesjid ditemukan), dan munculnya Islam sebagai kekuatan politik (sultan) memerintah (Taufik Abdullah, 1979: 1).

Untuk mencari ketepatan masuk dan berkembangnya Islam ke Nusantara termasuk pulau Bangka sangat sulit. Menurut Taufik Abdullah dan Noourduyn dalam Husni, proses pencarian tersebut dilakukan dengan membagi proses islamisasi dalam tiga fase, yaitu: pertama, fase de komst (datang) dipengaruhi oleh motif ekonomi; kedua, fase receptie (penerimaan) didorong oleh motif agama; dan ketiga, fase uitbreiding (pengembangan) didorong oleh motif politik (Husni, 1989: 1). Ketiga fase ini digunakan untuk menjelaskan bahwasanya proses masuk dan berkembangnya Islam di pulau Bangka melalui proses yang panjang, tidak terjadi serta merta atau sekaligus dalam waktu yang singkat.

Pada umumnya tesis yang selalu dimunculkan dalam menjelaskan masuk dan berkembangnya Islam pada tahap awal selalu dikaitkan dengan kegiatan perdagangan yang dilakukan muballigh. Pola ini terjadi di daerah-daerah Asia Tenggara. Islamisasi yang dilakukan oleh pedagang muslim melalui jalur perdagangan yang damai oleh para muballigh yang datang ke Nusantara. Islamisasi oleh pedagang terjadi sejak kontak paling awal antara Islam dengan daerah-daerah pesisir pantai Sumatera seperti Peurlak (Aceh) dan Samudera (Sumatera Utara).   Kontak awal  tersebut melalui pernikahan pedagang muslim dengan penduduk setempat sehingga terbentuklah komunitas muslim. Di samping kedua pola tersebut,  islamisasi jalur ketiga adalah melalui kontak kekuasaan kerajaan Islam.

Pola islamisasi di seputar masuk dan berkembangnya Islam di daerah daratan Sumatera, agaknya memiliki kesamaan dengan islamisasi di pulau Bangka. Menurut sejarawan   masuknya Islam ke pulau Bangka, tidak terlepas dari masuknya Islam ke daerah-daerah lain seperti Malaka, Sumatera (khususnya Sumatera Selatan) dan Jawa.  Syafi’i Maarif dalam Abdul Karim mengilustrasikan bahwa masuk dan berkembangnya Islam tidak bisa luput dari pertautan kesejarahan yang panjang (Abdul Karim, 5: 2007). Seiring dengan hal tersebut Yuda menjelaskan bahwa, permulaan abad ke 13 M agama Islam telah berkembang di Malaka dan kemudian tahun 1414 M, Malaka telah menjadi kerajaan Islam dan menjadi pusat pelabuhan dagang, terutama masa Muhammad Iskandar (Yuda, 1986: 228). Islam masuk melalui jalur Malaka pada abad 15 M, terutama dibawa oleh para pedagang yang sekaligus menjadi mubaligh yang ingin ke Jawa.

Senada dengan itu,  Suryanegara menjelaskan bahwa Islam masuk ke Sumatera Selatan pada masa kerajaan Sriwijaya yang saat itu menjadi jalur perdagangan Internasional, baik dari Arab, India, Malaka maupun Cina. Di sisi lain di Timur Tengah, saat itu Islam sedang maju pesat. Meskipun Sriwijaya mengembangkan  Budha sebagai agama, Sriwijaya tidak dapat menghalangi masuknya Islam (Suryanegara, 1986: 27). Bahkan ditemukan bahwa pada masa kerajaan Sriwijaya telah ada komunitas Cina Muslim di pulau Bangka (Abdullah Idi, 2001:6).

Lebih lanjut, Posponegoro dalam Salman Ali menjelaskan bahwasanya Islam masuk ke Sriwijaya melalui dua jurusan: jurusan utara dan selatan. Islamisasi lewat jurusan utara merupakan bagian dari sejarah perniagaan di seluruh Nusantara. Sedangkan islamisasi lewat jurusan utara, Islam masuk ke Palembang sejak abad ke 7 M, dibawa oleh para pedagang. Dari jurusan selatan, Islam masuk ke pedalaman Palembang dibawa oleh para da’i dari Banten, Demak, Mataram, Minang Kabau dan Kalimantan (Salman Ali: 136).  Bahkan Hasymi menegaskan, secara geografis wilayah Sumatera tengah (Sumatera Selatan) tidak disebutkan sama sekali) cenderung lebih dulu dimasuki Islam, bila dibandingkan dengan wilayah Jawa. Karena para da’i masuk dari wilayah Malaka dan Aceh, yang waktu itu telah mempunyai strategi dakwah di kawasan Nusantara (A. Hasymi, 1981: 174).

Dari uraian di atas menunjukkan bahwa posisi pulau Bangka berada pada jalur yang strategis. Raffles  dalam surat kepada Lord Minto mengungkapkan betapa strategisnya posisi Bangka (termasuk Belitung) yang bukan saja berada di antara Semenanjung Malaya dan Jawa, tetapi juga berada di tengah-tengah Sumatera dan Kalimantan. Bangka dan Belitung berada pada jalur perdagangan langsung antara Cina dan Eropa yang melewati Selat Sunda, sehingga akan menjadi tempat persinggahan dan diyakini akan menjadi pelabuhan besar di masa mendatang.  Dilihat dari sumber daya alamnya, Raffles dalam Sutedjo menyebutkan bahwa inilah tempat timah terkaya yang tidak ada bandingnya di dunia, seluruh pulau akan menjadi tambang timah besar (Sutedjo Sujitno, 1995; Setyo Sardjono, 45: 2008).

Datangnya Islam ke Nusantara ternyata tidak hanya menimbulkan perubahan pada kehidupan keagamaan penduduk, dari agama Budha, Hindu, animisme, dan dinamisme. Perubahan tersebut sampai pada aspek pranata kehidupan sosial politik. Perubahan terpenting menurut Salman Ali adalah timbulnya apa yang disebut ”Sultan” (Salman Ali, 1986: 123). Agama Hindu-Budha yang telah mentradisi selama 11 abad, sejak berdirinya kerajaan Kutai, Kalimantan Timur abad ke 4 M hingga runtuhnya kerajaan Majapahit abad 15 M, sebagai kerajaan terbesar di daerah Jawa. Peranan raja-raja Hindu-Budha melalui lembaga kerajaannya yang selama ini mewarnai kehidupan politik Nusantara mulai berkurang dan digantikan oleh sultan dengan institusi kesultanannya.

Proses perubahan konsep kerajaan menjadi kesultanan tersebut mulai dari kesultanan Aceh,  Demak ( didirikan oleh Raden Fatah), yang memiliki pengaruh sampai Cirebon, Banten, Kalimantan, Lampung, Jambi dan Palembang (Ensiklopedi Indonesia, 1980: 993). Dua abad kemudian timbul kesultanan Banten, Cirebon, Mataram, Tulangbawang, Jambi, Palembang, dan Banjar. Di bagian Timur muncul pula kesultanan Goa-Tallo, Tidore, Ternate, Jailolo dan Bacan.  Abad 13 dan 16 merupakan periode yang mengandung makna penting. Di Nusantara seolah ada dua poros kekuatan. Di satu pihak ”poros utara” berpusat di Aceh mewakili lembaga   kesultanan yang berorientasi pada Islam. Di pihak lain terdapat pula ”poros selatan” yang berpusat di Majapahit, mewakili lembaga kerajaan yang berorientasi pada Hindu-Budha. Dugaan tersebut diperkuat bahwasanya perahu-perahu layar semata-mata bergantung dengan angin, sehingga dari Malaka ke Jawa membutuhkan waktu yang lama. Menurut kebiasaan, para pelayar  menambah persediaan makanan dan air sebelum sampai ke tujuan, terlebih dahulu singgah di pelabuhan yang mudah disinggahi dan bebas dari gangguan angin. Sedangkan pulau Bangka dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan memiliki sumber alam seperti lada, yang dapat diperdagangkan.

Pada abad 16 M, poros utara menjadi adidaya dan poros Selatan melemah, yang digantikan oleh Demak. Poros Utara-Selatan sama-sama berpijak pada Islam. Pada abad itu pula mulai muncul kekuatan asing, seperti Portugis, Inggris, dan Belanda dengan ambisi ekonomi dan kolonialnya. Kolonialisme, khususnya Belanda menjadi kekuatan baru di daerah Sumatera Selatan bahkan seluruh Nusantara. Pertikaian kolonial Belanda terus berlanjut setelah munculnya kesultanan Palembang, yang disebut-sebut sebagai kerajaan maritim sebagaimana sebutan untuk kerajaan Sriwijaya.

Bertitik tolak dari kenyataan sejarah, Islam telah masuk ke Sumatera (Selatan) pada masa kerajaan Sriwijaya, termasuk di pulau Bangka yang waktu itu secara politis-- masih merupakan bagian dari Palembang. Dugaan tersebut diperkuat dengan adanya kemiripan kebudayaan yang telah berkembang di Malaka dan Bangka. Kemiripan tersebut dapat diidentifikasi pada beberapa simbol budaya dan jenis permainan, seperti tampes (sejenis kopiah), baju teluk belanga dan munculnya jenis permainan sepak raga yang dibuat dari rotan sagak.

Dalam versi lain Parama Consultan menjelaskan bahwa setelah berlayar ke wilayah Nusantara, orang-orang Eropa menemukan pulau Bangka, yang waktu itu  merupakan bagian dari pulau Sumatera. Pulau Bangka kurang diperhatikan karena  tidak menghasilkan rempah-rempah yang diperlukan walaupun berada pada posisi yang strategis. Kemudian pulau Bangka menjadi sasaran bajak laut, sehingga menimbulkan banyak malapetaka dan penderitaan penduduknya. Untuk mengatasi kekacauan ini, Sultan Johor dengan sekutunya Sultan Minangkabau mengirimkan panglima Tuan Sarah dan Raja Alam Garang yang sempat berkuasa dan menyebarkan agama Islam di daerah Bangka Kota dan Kota Beringin (sekarang dikenal Kotawaringin).




199 Komentar :

nopalea juice
14 November 2012 - 09:32:42 WIB

Bngaka kota indahAartikel menarik makasih pak janawi
kata kata cinta romantis
16 Januari 2013 - 20:07:31 WIB

thnks bangat gan infonya mantep abiss
kata mutiara bijak
16 Januari 2013 - 20:11:16 WIB

makasih atas semua infonyanya sangat bermanfaat sekali
jasa seo tepat
26 April 2013 - 02:15:15 WIB

Belakangan ini banyak bermunculan jasa seo di Indonesia. Tetapi apakah anda tahu jasa mana yang paling tepat untuk urusan SEO anda?
Hong Kong Airlines
13 Mei 2013 - 07:40:39 WIB

Jika anda berminat untuk berlibur ke Hong Kong, jangan lupa kunjungi situs kami terlebih dahulu. Sebab, berbagai macam informasi penting tentang negara itu telah diulas secara lengkap.
Document Translation
20 Mei 2013 - 17:28:19 WIB

Ucap salam selamat siang semoga tetap semangat! Mungkin telah banyak yang mengisi komentar di ruang ini, harapan saya mari jadi komentator yang baik, tidak menjatuhkan dan berilah saran/kritik yang membangun. Untuk pak admin terima kasih untuk semua artikel yang telah anda publish. silakan kunjungi link kami diatas. Kami menawarkan jasa yang mungkin anda butuhkan. Mari kita saling mendukung demi kelangsungan hidup dan kemajuan website Indonesia. Semoga menjadi informasi yang berguna untuk semua, terima kasih, salam hormad!
jual lingerie
07 Juni 2013 - 23:21:33 WIB

makasih
pulau tidung
03 Agustus 2013 - 10:01:21 WIB

maksi atas infonya
Obat Herbal Untuk Ibu Hamil
02 September 2013 - 09:50:44 WIB

cerita yang sangat bersejarah
info pulau seribu
05 September 2013 - 02:59:23 WIB

berita yang bagus untuk di bagikan ke yang lain dan juga menambah wawasan kita
<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | ... | 20 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)